Kardinal berkulit hitam pertama

Kardinal berkulit hitam pertama Amerika Serikat diangkat Paus Fransiskus

Kardinal berkulit hitam pertama di Amerika Serikat baru saja dilantik pengangkatannya secara resmi oleh Paus Fransiskus pada 28 November 2020. Nama orang tersebut adalah Wilton Gregory, seorang warga negara resmi Amerika Serikat yang berketurunan campuran separuh Afrika, membawanya kepada catatan sejarah terbaru dunia katolik.

Gregory menjalani peresmian bersama dua belas rekan lainnya melalui sebuah upacara sakral di Vatikan, Roma secara khusyuk dan tenang. Mayoritas peserta dipastikan mengenakan masker yang menutupi separuh wajahnya demi menghindari resiko penyebaran covid dan menciptakan klaster baru.

Kardinal berkulit hitam pertama Amerika Serikat diangkat Paus Fransiskus

Gregory saat ini menjabat sebagai Uskup Agung regional Washington DC dan tahun ini ia genap menginjak usia emas yaitu 72 tahun. Berita mengenai rumor pelantikannya sebagai orang kulit hitam pertama yang akan memasuki wilayah kardinal telah beredar sejak bulan Oktober 2020 lalu.

Kardinal adalah gelar kehormatan untuk sekumpulan pastor yang dianggap paling senior dalam susunan gereja katolik Roma. Mereka digambarkan kerap tampil dam jubah berkerah serba merah, dan itu adalah posisi tertinggi yang bisa kita raih karena setingkat di atasnya hanya tinggal paus seorang diri.

Kardinal mengemban tugas penting yaitu menentukan sosok yang berhak untuk diangkat menjadi seorang paus pada setiap pemilihan tertutup. Pemimpin wilayah Vatikan juga akan diambil dari kelompok kardinal, manakala mereka mengadakan sebuah rapat khusus dan konfidensial bernama konklaf.

Kardinal Berkulit Hitam Pertama Sebagai Langkah Awal Keterbukaan Katolik

Berdasarkan kebijakan yang baru saja dibuat beberapa waktu belakangan, setidaknya ada empat kardinal yang tidak berhak ikut voting pada konklaf selanjutnya. Keempat kardinal tersebut menjadi pertimbangan salah satunya yaitu usia senja di atas 80 tahun sehingga dikhawatirkan akan mengganggu rencana yang telah dipersiapkan sejak awal.

Sebagai intermezzo, terdapat sebuah persamaan antara kardinal berkulit hitam dengan penemuan harimau hitam di India. Mereka sama – sama langka, dan keduanya menjadi sebuah tolak ukur bersejarah dimana nantinya akan menyelamatkan kelompok mereka masing – masing kepada sebuah eksistensi diri.

Kardinal Berkulit Hitam Pertama Sebagai Langkah Awal Keterbukaan Katolik

Dengan kata lain, nantinya hanya bersisa sembilan orang kardinal yang berhak mengeluarkan suaranya untuk konklaf ke depan. Kesembilan penatua tersebut berasal dari berbagai macam yaitu di antaranya adalah Malta, Filipina, Brunei Darussalam, Italia, Rwanda, Chile, dan Meksiko.

Upacara yang diadakan khusus hanya demi mengangkat anggota kardinal terbaru itu sendiri mempunyai istilah tersendiri dengan nama konsistori. Acara tersebut dipangkas durasinya menjadi jauh lebih singkat karena khawatir akan semakin beresiko terkena Covid-19 apabila terlalu lama diselenggarakan sehingga membahayakan para peserta.

Berkenaan dengan hal tersebut, Paus Fransiskus adalah satu – satunya peserta konsistori yang bebas dari kewajiban pemakaian masker dan terlindungi secara istimewa. Untuk meminimalisir terjadinya penularan corona, sejumlah kardinal yang sedang dalam kondisi kurang fit dihimbau untuk mengikuti upacara melalui sistem panggilan video call saja.

Mengenal Wilton Gregory Lebih Dekat

Sebagai kardinal berkulit hitam pertama dari Amerika Serikat, nama Wilton Gregory mendadak jadi tenar khususnya di sosial media. Beliau telah menjadi imam semenjak masih muda, dan dilantik sebagai pastor pada usia belia yaitu 25 tahun, seraya naik menjadi Uskup Agung Washington baru saja tahun lalu pada bulan Mei 2019 tahun kemarin.

Gregory bisa naik bukan karena kebetulan, melainkan berhubungan dengan insiden pelecehan seksual oleh seorang kardinal bejat. Nama tersangka itu adalah Kardinal Donald Wuerl, dan ia seketika mengundurkan dirinya dari kepengurusan keagamaan katolik karena tak tahan menanggung malu.

Mengenal Wilton Gregory Lebih Dekat Kardinal Berkulit Hitam Pertama

Ketika kekosongan terjadi, para tetua mulai memikirkan siapakah sosok yang pantas menggantikan Donald Wuerl untuk memimpin umat katolik di wilayah tersebut. Kebetulan pada saat itu, Kardinal Gregory adalah sosok paling menonjol dalam upayanya menyetop tindak kriminal seperti misalnya pelecehan seksual di gereja.

Kardinal Gregory bahkan sempat melayangkan kritik secara terbuka kepada Presiden Amerika Serikat yaitu Donald Trump. Ia menentang keras perbuatan Gregory yang memanipulasi acara kunjungannya ke serangkaian acara keagamaan demi meraup suara perpolitikan.

Gregory mengecam keras perbuatan Trump saat ia mengunjungi tempat suci situs Saint John Paul II di Washington dan menegur sekeras mungkin. Menurut beliau, apa yang dilakukan Trump merupakan perbuatan tercela dan melukai umat katolik di seluruh dunia sehingga menghilangkan simpati mereka terhadap kelakuan presiden AS tersebut.

Leave a Comment